Home » News » Booming lagi, permintaan celana cutbray tinggi (1)

Booming lagi, permintaan celana cutbray tinggi (1)

Tren Celana Cutbray.foto dok.Cutbray id

Tren fesyen memang acap kali berputar. Bebeberapa fesyen item yang digandrungi puluhan tahun lalu, bisa jadi kini kembali naik daun.  Seperti celana cutbray, model celana yang melebar mulai dari bagian lutut ini kembali booming.

Menurut Taufik Rustiadi, penjual celana cutbray asal Bandung, sejak akhir 2016 hingga sekarang permintaan jenis celana ini terus meningkat. Taufik sendiri menyediakan cutbray dengan beragam jenis bahan, seperti jins, corduroy dan cotton twill.

Di lapak onlinenya Cutbray.id, Taufik menjual celana cutbray mulai Rp 110.000-Rp 120.000 per item.  “Kami jual semua umur, untuk anak-anak pun sudah ada,” ujar Taufik.

Tak andalkan suplayer, Taufik pilih produksi celana cutbray sendiri. Ia menggunakan sistem pre-order. Setiap pesanan dirampungkan dalam tiga sampai tujuh hari. Produksinya berlangsung di workshop.

Tren cutbray tampaknya tak terpusat di ibu kota. Taufik sendiri mengaku mengirim produk cutbray ke setiap provinsi di Indonesia. “Belum semua kota, tapi dari Aceh sampai Papua sudah pernah kirim,” tuturnya.

Saat ini setiap hari setidaknya Taufik menyelesaikan 75 cutbray pesanan pelanggan. Ia bilang dalam sebulan ia bisa menjual hingga 3.000 produk. “Sejak akhir 2016, sampai sekarang gak pernah turun permintaan. Sampai sekarang ada terus waiting list-nya,” jelas Taufik.

Penjual lainnya adalah Aris Widiati pemilik Galeri Celana asal Sidoarjo, Jawa Timur. Aris juga mengakui bahwa, tren celana model lebar bagian bawah ini  mulai muncul kembali sejak tahun lalu. “Saat masuk pertengahan tahun 2016 mulai ramai dan banyak yang cari,” katanya.

Perempuan yang lebih akrab disapa Aris ini memprediksi, model cutbray bakal booming sampai lima tahun kedepan. Asalkan, motifnya makin variatif.

Sekarang, dia menjual dua macam celana jenis celana cutbray yaitu berbahan jins dan kain. Untuk motifnya pun tidak hanya melulu polos tapi juga menggunakan akses bordir dan rumbai dibagian bawahnya.

Yang terbaru adalah model high weist, model ini banyak digemari karena nyaman. Asal tahu saja, kebanyakan penggemar celana yang sempat ngetren di tahun ’70-an ini adalah para ibu-ibu atau perempuan usia 20 tahun keatas.

Menyasar konsumen kalangan menengah, dia mematok harganya Rp 230.000 untuk bahan kain dan Rp 250.000 untuk bahan jins. Rata-rata dalam sehari dia dapat memasarkan lima potong celana.

Tidak seperti pedagang lainnya, Aris melakukan proses produksi sendiri. Konveksinya berada di Bandung, Jawa Barat. Dalam sekali produksi bisa menghasilkan sekitar sembilan lusin.

Memanfaatkan media sosial seperti Instagram untuk berjualan, konsumennya banyak datang dari luar kota seperti Jakarta, Medan, Batam dan Bandung.

(Bersambung)